Jumat, 17 April 2009

AL HAYAT (Kehidupan)



Sungguh hidup ini akan terasa indah dan lebih bermakna bila orang orang mengerti akan dirinya, hak dan kewajibannya, lebih lebih jika mereka mau mengerti siapa Aku, Dia dan Kita, Entahlah…….Hanya mereka yang tahu apa yang terbaik untuknya.

Untuk itulah mungkin Tuhan jadikan kita berbeda beda agar kita bisa saling mengenal dengan satu sama lainnya.Itulah kehidupan ramai, liar, bergelora tapi indah dan memabukkan bagi yang tak sanggup menjalaninya. Namun hanya bagi mereka yang pandai menyimak dan meresapinya saja yang dapat merasakannya, bahwa hidup ini indah dan bermakna tak ada hal yang sia sia padanya.

Itulah hidup yang dalam menjalaninya tak cukup hanya dilihat, tapi juga mesti dirasakan agar kita mengerti mati dalam hidup, hidup dalam mati dan hidup dalam hidup dengan yang hidup.


Hidup adalh suatu proses dalam menuju kebahagiaan yang abadi, sengsara atau bahagia sebenarnya ada dan hanya ada pada diri kita sendiri, hanya saja mau nggak kita menjalani dan menerima resikonya atau melakukannya dengan penuh kesadaran tanpa ada rasa terpaksa ataupun dipaksa. Kehidupan merupakan tempat menggembleng diri atau menempa diri yang hidup dengan berbagai pengamalan dan pengalaman yang dengan itu dia menjadi tahu apa, siapa dan bagaiman, hingga menjelma jadi suatu pengetahuan sebagai bekal dalam mencapai tujuan dan alat mewujudkan apa yang dicita citakannya.


Pengetahuan yang sudah disestematikan atau terstruktur disebut ilmu, karenanya kehidupan tidak akan ada tanpa adanya yang hidup, dimana ada yang hidup disitu ada kehidupan. Kalau begitu apa sih yang hidup? Hidup sama dengan wujud, yaitu apa saja yang tampak ada sekalipun adanya hanya terbetik dalam hati dan terlintas dalam pikiran, tetap dibilang hidup, karena mewujud dalam arti lain. Hidup bisa juga exisnya atau adanya segala yang ada sekalipun ada hanya terbetik dala hati dan terlintas dalam pikiran. Kalau demikian apa sih yang hidup? Yang hidup itu rasa. Yaitu wujud yang memiliki rasa yang dengan itu dia berperasaan dan merasakan yang ada dari selain dirinya. Jadi seandainya ada yang merasa hidup, tapi tidak bisa merasakan apa yang ada dari selain dirinya, maka dia sudah tidak lagi disebut yang hidup, tapi bisa dikatakan bangkai, sebab hanya bangkai yang ada wujudnya, tetapi tidak bisa merasakan apa yang ada dari selain dirinya.. Siapa yang menghidupkan? Yang meng hidupkan adalah kehendak tanpa kehendak mungkin alam ini juga tidak ada. Kehendak siapa? Kehendak yang hidup, sebab bila yang hidup sudah berkehendak dia mampu menghidupkan (mewujudkan) apa saja yang jadi keinginannya sebagaimana yang dia kehendaki. Bila demikian lantas apa yang dihidupkan? Yang dihidupkan itu wujud (hidup itu sendiri) yaitu yang diwujudkan, sebab ketika yang hidup berkehendak maka hiduplah (mewujudlah) saat itu juga apa yang diinginkannya sebagaimana yang dia kehendaki. Jadi kehidupan itu sendiri adalah tempat hidupnya yang hidup “Tempat Adanya Wujud Yang Merasa”


Semoga dalam kehidupan yang sudah sangat komplek ini, agama atupun ibadah bukan hanya digunakan sebagai rutinitas belaka ataupun formalitas saja, yang hanya digunakan untuk acara acara protokoler utk menebus syurga dan menghindari neraka, tetapi lebih bisa digunakan utk melatih kepekaan kita agar senantiasa lebih bisa menghidupkan rasa yang merasa dan pada akhirnya mewujudkan kesadaran utk diaplikasikan atau direalisasikan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat….. wallahualam…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar